Bahasa Indonesia
Xenoglosofilia, kenapa harus nginggris?
Xenoglosofilia adalah kecenderungan menggunakan kata-kata yang aneh atau asing terutama dengan cara yang tidak wajar.
Saya membeli buku ini karena ada dua hal. Pertama, saya ingin mengenal lebih dekat pemikiran Ivan Lanin. Kedua, saya ingin memperluas pandangan saya terkait kata-kata yang masih bisa diucapkan dengan Bahasa Indonesia alih-alih Bahasa Inggris. Saya sependapat dengan pernyataan Ivan Lanin bahwa kemampuan berbahasa adalah kunci untuk bisa menyampaikan ide dengan baik. Tanpa adanya ini, seberapapun ide yang kita punyai, niscaya sulit untuk menyebarkannya.
Di buku ini, saya belajar beberapa kata yang bisa saya pakai dalam Bahasa Indonesia alih-alih Bahasa Inggris, diantaranya:
- Offline menjadi terputus/luring.
- Online menjadi terhubung/daring.
- Browser menjadi peramban.
- Default menjadi bawaan.
- Blogger menjadi narablog.
Namun, jika saya bawa ke dalam sebuah percakapan yang baku ataupun tidak baku, kadang entah kenapa saya merasa perlu melakukan improvisasi. Contoh, "Aku offline dulu ya!" dan diubah menjadi "Aku luring dulu ya!" maka rasanya kurang familiar di telinga. Mungkin karena belum terbiasa. Hmm, bagaimana kalau saya ubah jadi begini "Aku cabut dulu ya!". Nah, kata "cabut" ini bisa dipakai dalam situasi dunia maya ataupun dunia nyata. Saya rasa ini lebih pas didengar di telinga. Saya pikir bahasa termasuk Bahasa Indonesia itu bisa diimprovisasi senyaman telinga dan batin kita. Intinya, jika sebuah kata dari Bahasa Inggris ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia maka mari kita coba gunakan kata itu dalam Bahasa Indonesia. Setelah lama-lama dicoba namun ternyata tidak memiliki rasa yang pas maka mau tidak mau harus pakai Bahasa Inggris. Contoh, di buku ini memberi tahu bahwa Bahasa Indonesia mouse pada komputer adalah tetikus dan Bahasa Indonesia cache pada komputasi adalah tembolok. Namun, orang-orang termasuk saya dominan lebih nyaman menyebutnya mouse dan cache. Ya, begitulah bahasa.
English
Xenoglosofilia, kenapa harus nginggris?
Xenoglosofilia is a tendency to use strange or foreign words especially in an unnatural way.
I bought this book because of two reasons. First, I want to get to know Ivan Lanin's thoughts better. Second, I want to expand my views related on words that can still be said in Bahasa Indonesia instead of English. I'm agree with Ivan Lanin's statement that language skill is a key to convey ideas well. Without this, no matter how much idea we have, it must be difficult to spread it.
In this book, I learn several words that I can use in Bahasa Indonesia instead of English, among them are:
- Offline to be terputus/luring.
- Online to be terhubung/daring.
- Browser to be peramban.
- Default to be bawaan.
- Blogger to be narablog.
However, if I bring that into a formal or informal conversation, somehow I feel like I need to do improvisation. Example, "Aku offline dulu ya!" and changed to be "Aku luring dulu ya!" then it feels less familiar in my ears. Maybe I'm not familiar with that. Hmm, how about I change that to be "Aku cabut dulu ya!". Aha! the word of "cabut" can be used in this situation either in social media or real world. This is more familiar in my ears. I think every languages include Bahasa Indonesia can be improvised to make it comfortable in our ears and feelings. The main thing is if there's a word in English and that word has a translate into Bahasa Indonesia then let's use that word in Bahasa Indonesia. If we try many times but it turns out not comfortable in our ears and feelings then whether you want it or not you must use it in English. Example, this book tell us that the word of mouse (for computer) in Bahasa Indonesia is tetikus and the word of cache (for computation) in Bahasa Indonesia is tembolok. But, people include me more convenient use the word of mouse and cache. Yep, that's a language, folks!